• April 18, 2024

Bank Dunia Sebut Ekonomi RI Paling Kuat, Istana: Semoga Kasus Covid-19 Tidak Naik Lagi

Pemerintah Indonesia optimistis perekonomian akan semakin tumbuh pada tahun 2022. Kunci untuk mewujudkan itu adalah penanganan pandemi Covid 19. "Kita tidak boleh lengah. Kita sadar bahwa kunci pemulihan ekonomi itu pada penanganan pandemi. Sekarang pandemi terkendali.

Tantangannya bagaimana Covid 19 tidak naik lagi," kata Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Edy Priyono dalam pernyataannya, Senin (13/6/2022). Bank Dunia melalui laporannya bertajuk Global Economic Prospect June 2022 menilai, ekonomi Indonesia menjadi salah satu yang paling kuat di tengah situasi risiko global. Bank Dunia memprediksi ekonomi Indonesia akan berada di level 5,1 % pada tahun 2022 atau hanya turun 0,1 % dari proyeksi sebelumnya.

Padahal, negara negara kuat seperti Amerika Serikat dan China mengalami revisi pertumbuhan ekomomi lebih besar, masing masing 1,2 % dan 0,8 % . Pertumbuhan ekonomi Rusia diperkirakan terkontraksi 8,9 % atau turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 11,3 persen. Penilaian dari Bank Dunia tentu jadi kabar baik buat Indonesia. Tapi di sisi lain adalah tantangan buat Indonesia bagaimana mewujudkan penilaian itu.

Edy mengatakan, saat ini aktivitas perekonomian di Tanah Air terus meningkat. Tempat wisata dan hiburan sudah dibuka. Tapi kegiatan masyarakat harus tetap diimbangi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Agar pemulihan ekonomi dan pengendalian Covid 19 bisa tetap berjalan.

"Selama Covid 19 terkendali, saya yakin pemulihan ekonomi akan tetap pada jalurnya," tegas Edy. Faktor lain yang juga penting untuk pengendalian Covid 19 adalah lancarnya program vaksinasi nasional. Data Satgas Covid 19 menyebutkan sebanyak 200.845.766 sudah mendapatkan vaksinasi dosis pertama dari total sasaran 208.265.720.

Sedangkan penerima vaksinasi dosis kedua sudah 168.068.616. Dan penerima vaksinasi booster sudah 47.631.247. Dari sisi kebijakan ekonomi, Edy mengatakan, permintaan terhadap produk sudah meningkat seiring keputusan pemerintah melonggarkan mobilitas masyarakat. Kemudian, pemerintah berusaha menjaga daya beli masyarakat dengan memberikan bantuan sosial kepada kelompok tidak mampu.

"Pengendalian harga juga penting, kalau ada kenaikan tapi tidak terlalu besar. Masih ada subsisidi juga. Stabilitas ekonomi makro juga tidak bisa dilupakan, bagaimana menjaga nilai tukar," kata Edy. Pekerjaan lainnya, kata Edy, bagaimana mendorong penyerapan tenaga kerja. Menurut Edy, UKM yang jumlahnya sekitar 40 juta memang bagian penting untuk ekonomi Indonesia tetap bertahan. Tapi, tidak bijak kalau mengandalkan UKM untuk menyerap tenaga kerja lebih banyak. "Sekarang jumlah angka pengangguran sudah semakin berkurang. Pasar kerja mulai pulih tapi belum sepenuhnya.

Kita tetap memerlukan sektor usaha skala besar dengan upah layak sehingga bisa mendorong penyerapan tenaga kerja," kata Edy.(Willy Widianto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *